Posts

Menjelajahi sekelumit Jagad Kidul Banten

Image
Lima puluh persen dari rute yg saya lintasi ini merupakan pengalaman baru dan rute baru bagi saya, apalagi saya jalan sendiri. Trip kali ini saya mencoba untuk belajar berpetualang sendirian (solo ride). Memulai proses mengenal diri melalui kemandirian, keberanian, dan ketenangan saat menghadapi tantangan, ngulik potensi yang tersimpan, memperkuat mental, serta menghargai momen dan kebebasan pribadi tanpa perlu menyesuaikan diri dengan orang lain.  Mungkin pengalaman ini membantu transformasi diri menjadi lebih kuat, adaptif, dan memahami penziarahan hidup dengan memanfaatkan kesendirian sebagai waktu untuk refleksi jujur dan pemantapan mental. Mengasah kepekaan untuk menemukan kekuatan, batas, dan keinginan pribadi tanpa distraksi, karena harus membuat keputusan sendiri sesuai keinginan. Berusaha melatih kemampuan survive, beradaptasi, mau berdamai dengan keadaan dalam situasi tertentu, dan selalu mencoba hal baru yang mungkin orang lain tidak suka melakukannya. Puji Tuhan! Setela...

Gua Maria Tritunggal Maha Kudus

Image
Di kaki perbukitan Sibiru-biru, Deli Serdang, ditengah perkebunan Sawit berdiri Gua Maria Tritunggal Maha Kudus. Menuju tempat ini  jalannya  adem, dihapit perkebunan sawit, jalanan mulus dengan kontur rolling tipis.  Tempatnya hening, menuntun siapa pun yang datang untuk berhenti sejenak istirahat dari keriuhan. Beberapa orang datang dengan berbagai alasan. Ada yang membawa doa, ada yang membawa luka, ada pula yang bahkan tidak tahu apa yang sedang mereka cari. Mereka menaiki anak-anak tangga yang tak terlalu tinggi, duduk dilantai sambil melepas sepatu, lalu masuk ke ruang doa, kapel Adorasi. Di samping kapel, ada patung Maria berdiri, ditemani lilin-lilin kecil menyala seperti cerita-cerita yang tak selesai, tentang harapan, penyesalan, dan keinginan untuk memulai ulang. Tempat ini sering menjadi ruang retret kecil. Lebih mirip perjumpaan sunyi antara manusia dan dirinya sendiri. Di antara desir angin dan suara daun yang saling bersentuhan, kita belajar mendengar sesua...

Arulmigu Sri Maha Mariamman

Image
Di sebuah sudut dusun kecil yang tenang di Percut Sei Tuan, berdiri kuil kecil "Arulmigu Sri Maha Mariamman" yang mungkin luput dari peta wisata, namun menyimpan semesta makna dalam diamnya. Di sana, ajarannya tidak disampaikan lewat kata-kata panjang atau khotbah yang menggurui. Ia hadir dalam bentuk yang lebih halus, seperti; warna, bentuk, aroma, dan gerak. Simbol-simbol di kuil Hindu Tamil ini adalah bahasa visual, sebuah cara berbicara yang tidak memerlukan suara, namun mampu menjangkau batin. Gopuram di pintu masuk menjulang, meski tak tinggi, dipenuhi figur-figur dewa dengan ekspresi yang tak selalu mudah dimengerti. Ia bukan sekadar ornamen. Ia adalah penanda peralihan, dari dunia yang riuh menuju ruang yang lebih hening. Dari luar ke dalam. Dari fisik ke spiritual. Di ambang itu, Ganesha menyambut. Wajah gajahnya tenang, seolah memahami bahwa manusia datang dengan beban yang tak selalu tampak. Dalam diamnya, ia menjadi simbol harapan bahwa setiap langkah yang dimulai...

Melawan dengan Seni

Image
Sore itu, 11 Juli 2025, Bentara Budaya Jakarta menggelar diskusi Pameran tunggal  “Moelyono dan Seni Rupa Ludrukan Desa.” Melalui karyanya, Moelyono menyuguhkan realitas sosial yang masih relate sampai hari ini, dimana Ludruk menjadi bagian sumber inspirasinya.  Dalam pengamatan Moelyono, secara alami Ludruk adalah bentuk seni yang merefleksikan kehidupan rakyat kecil Desa sehari-hari, termasuk penderitaan, ketertindasan dan perjuangannya. Karenanya, Moelyono tertarik dengan cara Ludruk menyampaikan kritik sosial dengan spontan, humor, dan menggunakan bahasa yang sangat mudah dipahami oleh semua kalangan.  Saat kita menikmati karya Moelyono, bukan hanya sekedar menikmati estetika saja, lebih dari itu kita diajak memahami, merefleksikan, dan bertindak atas realitas sosial-politik yang mungkin bisa kita rasakan hari ini. Bagi Moelyono, Ludruk semacam model Ideal untuk seni yang hidup dikalangan masyarakat, bukan hanya di galeri!

Geger Gempolkrep: Saat Gula Tak Lagi Manis

Image
Apa jadinya jika tanahmu diambil, airmu dipakai, dan suaramu dibungkam? Di panggung kecil di Bentara Budaya Jakarta, (11/7/2025), rakyat bicara lewat tawa dan tangis, itulah Ludruk “Geger Pabrik Gula Gempolkrep” dari Budhi Wijaya. Ludruk adalah teater rakyat khas Jawa Timur, yang biasanya diisi guyonan segar, tari remo, jula-juli dan cerita kehidupan rakyat. Ludruk Budhi Wijaya salah satu grup yang terus hidup sampai sekarang, yang konsisten mengangkat isu-isu sosial. Lakon “Geger Pabrik Gula Gempolkrep” mementaskan karakter dan konflik antara rakyat melawan penguasa kolonial. Lakon ini menghidupkan kembali tradisi “seni untuk menyuarakan rakyat,” bukan sekadar hiburan. Dalam kontek kekinian, ada kritik terhadap korporasi, negara, hingga sistem hukum yang tidak berpihak. Tapi tetap dibungkus dengan gaya satir. Kisah keributan di Gempolkrep yang dimainkan oleh Ludruk Budhi Wijaya ini menjadi bagian dari mozaik besar perlawanan rakyat terhadap kolonialisme. Ini bu...

Melintasi Sisa Sejarah Kolonialisme di Rancabali

Image
Akhir Mei 2025 lalu punya kesempatan menghadiri Anniversary ke 14 komunitas Federal Bandung Indonesia. Kegiatan acaranya Bike Camp, treking dan bagi-bagi hadiah di Barusen Camp, Ciwidey, Bandung.  Kegiatan seperti ini menjadi kerinduan kawan-kawan yang nyandu turing, ajang kumpul atau bertemunya para goweser dari berbagai daerah, diluar kota Bandung! Setelah Bike Camp bubar, kami ber-tujuh melipir ke Rancabali, Ciwidey. Nanjak tipis, diselingi jalanan Rolling kami menyusuri perkebunan teh Sinumbra, kira-kira 50 Kilometer dari Kota Bandung. Asik tempat ini, berada diketinggian antara 1300-1800 Meter Diatas Permukaan Laut, suhu rata-rata kisaran 16-25 derajat Celcius, suasananya sejuk, tenang, dan indah. Dari atas sadel sepeda kami melihat hamparan hijau tanaman teh yang membentang luas, dasyat! Pesonanya sangat berbeda dengan perkebunan-perkebunan teh lainnya yang pernah kami kunjungi. Perkebunan Teh Sinumbra ini merupakan salah satu peninggalan bersejarah dari masa kolonial Belanda...

Mengenang Paus Fransiskus (1936-2025)

Image
©️ 2025 siholsitanggang Mendengar kabar wafatnya Paus Fransiskus, seluruh umat Katolik merasa kehilangan seorang pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia. Paus Fransiskus dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana, rendah hati, dan panutan dalam perdamaian dunia,   laku cinta kasihnya telah menjadi teladan hidup dimasa kepemimpinannya. Dalam suasana khidmat dan duka, sejumlah umat terus berdatangan ke Katedral, baik  pribadi maupun berkelompok untuk memberikan penghormatan terakhir, menyalakan lilin, dan berdoa bagi kedamaian jiwa Paus Fransiskus. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi umat Katolik dan masyarakat dunia yang mengaguminya sebagai pemimpin spiritual yang penuh kasih dan welas asih.   Selamat Jalan Bapa Suci Paus Fransiskus, kami akan mengenang dan mendoakanmu selalu,    pesan-pesan kasihmu selalu hidup dalam keseharian umat Katolik diseluruh dunia. Gambir, 22 April 2025 ©️ 2025 siholsitanggang